Senin, 03 Juni 2013

Pendapatan Nasional

Pendapatan Nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor produksi yang digunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam suatu tahun tertentu. Pendapatan nasional juga dapat diartikan sebagai nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara. Salah satu tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai kondisi perekonomian suatu negara adalah pendapatan nasional. Tujuan dari perhitungan pendapatan nasional ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat ekonomi yang telah dicapai dan nilai output yang diproduksi, komposisi pembelanjaan agregat, sumbangan dari berbagai sektor perekonomian, serta tingkat kemakmuran yang dicapai .

Akurasi sistem penghitungan pendapatan nasional akan menjadi lebih baik jika Kantor statistik memperkirakan tehnik perhitungannya atas dasar pendekatan penerimaan agregat, seperti yang dilakukan oleh sebagian besar negara-negara maju. Sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, pendapatan nasionalnya dihitung dengan menggunakan pendekatan pengeluaran agregat. Alasannya kita belum memiliki data yang lengkap tentang laporan pendapatan dari masing-masing rumah tangga di seluruh penjuru tanah air.


A. Perputaran Roda Perekonomian
Pertumbuhan Ekonomi dalam sebuah negara biasanya dihitung berdasarkan pertumbuhan ril dari GDP negara tersebut,yakni seberapa besar GDP negara bertambah secara ril dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini dihitung dengan cara membagi nilai dari output suatu sektor ekonomi pada tahun dengan nilai output sektor tersebut dan dikali 100% kemudian dikurangi 100. Bila GDP mengalami pertubuhan yang tinggi berarti pendapatan masyrakat mengalami pertumbuhan yang tinggi. GDP Indonesia menurut lapangan usaha berdasarkan harga yang berlaku dan harga konstan.

  • Pengeluaran Agregat (Aggregate spending)

Pengeluaran Agregat ini sama dengan permintaan aggregat karena konsekuensi dari permintaan adalah adanya pengeluaran oleh rumah tangga, investor, pemerintah dan eksportir untuk membeli barang dan jasa. Pengeluaran Aggregate itu dapat di golongkan menjadi 4 komponen ,yaitu:
a. pengeluaran konsumsi rumah tangga
b. pengeluaran investasi oleh pengusaha (bisnis)
c. pengeluaran pemerintah
d. pemerintah luar negeri
  • Pengeluaran Konsumsi

Merupakan bagian terbesar dari permintaan aggregat yaitu berupa permintaan dari konsumen terhadap barang dan jasa yg dibutuhkan. Kontribusi konsumsi terhadap pembentukan GDP di indonesia diperkirakan 65% dari total GDP. Kosumsi dapat di bagi menjadi 3 yaitu barang tahan lama, barang tidak tahan lama, dan jasa.
  • Pengeluaran Investasi

Investasi adalah tambahan terhadap akumulasi modal ditambah dengan perubahan persedian. Tetapi transaksi saham tidak termasuk dalam penambahan stok modal. Investasi adalah aktifitas yang bisa meningkatkan kemampuan ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa di masa mendatang.
  • Pengeluaran Pemerintah

Pengeluaran pemerintah yang diperlukan agar roda permerintahan dapat berjalan dengan baik. Pengeluaran pemerintah ini tercantum dalam anggaran belanja dan pendapatan nasional (APBN). Barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah tidak dihitung ke nilai tambahnya (value added) seperti halnya pada barang konsumsi karena barang dan jasa yg diproduksi oleh pemerintah pada umumya adalah gratis. Pengeluaran pemerintah seperti uang pensiun tidak dihitung dalam GDP karena tidak termasuk ke dalam pembelian barang atau jasa.
  • Permintaan Ekspor Bersih (Net Export)

Komponen terakhir dari GDP adalah net export yaitu selisih antara export dan import (X – M). Export merupakan GDP dari dalam negeri karena merupakan barang atau jasa yang diproduksi di dalam negeri, tetapi tidak dikonsumsi di dalam negeri. Barang ekspor akan dibeli atau dikonsumsi oleh rumah tangga, investor, atau pemerintah negara asing sedangkan import adalah barang yang diproduksi di luar negeri, berarti adalah GDP negara asing.


B. Metode Perhitungan Pendapatan Nasional
Dalam  menghitung pendapatan nasional dapat dilakukan dengan 3 metode / pendekatan perhitungan pendapatan nasional, yaitu sebagai berikut :

1. Pendekatan Produksi.
Pendekatan Produksi adalah nilai tambah yang di ciptakan dalam suatu proses produksi. Metode ini untuk menghitung pendapatan nasional dengan cara menjumlahkan nilai tambah yang diwujudkan oleh perusahaan-perusahaan di berbagai lapangan usaha dalam perekonomian.

Pendekan produksi (PDB/PGNP) merupakan pendapatan yang berasal dari penggunaan beberapa fakto-faktor produksi untuk menghasilkan sesuatu. Nilai produksi suatu sector menggambarkan nilai tambah yang diwujudkan oleh suatu sector tersebut. Cara perhitungan dalam praktik ini adalah dengan membagi-bagi perekonomian menjadi beberapa sector produksi (industrial origin) jumlah output masing-masing sector merupakan jumlah output seluruh perekonomian.

Pendekatan produksi dapat di cari dengan beberapa Rumus: 
Y=(P1 X Q1)+(P2 X Q2)+….(Pn X Qn)
Keterangan :                           P2= harga barang ke-2
Y= Pendapatan nasional         Q2= jenis barang ke-2
P1= harga barang ke-1             Pn= harga barang ke-n
Q1= jenis barang ke-1             Qn= jenis barang ke-n
Metode ini mempunyai tujuan yaitu: 
  1. Untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sector ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional.
  2. Sebagai salah satu cara untuk menghindari perhitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi neto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi.

Metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu  Munculnya double counting atau lebih, maksudnya adalah nilai produk sebelumnyaakan di tambahkan pada produk-produk turunan berikutnya dan digunakan sebagainilai akhir produk tersebut, Akibatnya nilai produk akhir menjadi lebih tinggi. Untuk menghindari penghitungan ganda dapat digunakan metode penghitungan nilai tambah. Untuk keperluan penghitungan perekonomian Indonesia di bagi dalam Sembilan sector atau lapangan usaha terbagi dalam tiga kelompok, yaitu sebagai berikut :

1)    Sector Primer
  •  Pertanian, Pertenakan, Kehutanan, dan Perikanan.
  • Pertambangan dan penggalian.

2)  Sector Sekunder
  • Industri pengolahan.
  • Listrik, air, dan gas.
  • Bangunan.

3) Sector Tersier
  • Perdagangan, Hotel, dan Restoran.
  • Pengangkutan dan telekomunikasi.
  • Jasa lain-lain.


2.  Pendekatan Penerimaan / Pendapatan.
Metode pendekatan pendapatan adalah pendapatan nasionl dari hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan yang diterima oleh pemilik factor produksi dalam suatu Negara selama satu tahun. Pendekatan ini mengarah pada penerimaan atas penggunaan faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi terdiri dari tenaga kerja, modal, tanah, dan keahlian/kewirausahaan. Masing-masing factor produksi akan menghasilkan  pendapatan yang berbeda-beda,tenaga kerja akan memperoleh gaji/upah, pemilik modal akan mendapatkan bunga, pemilik tanah akan memperoleh sewa, dan keahlian atau skill akan memperoleh laba.

Secara matematis, penghitungan dengan pendekatan pendapatan dapat di tulis sebagai berikut:
NI = w + I + r +p
NI = National income (pendapatan nasional )
w =  wage (upah)
i  = interest (bunga)
r = rent (sewa)
p = profit (keuntungan/laba)



Dalam perhitungan pendapatan nasional di terangkan istilah bunga neto, bunga neto adalah jumlah bunga yang di bayar dalam perekonomian dalam satu tahun tertentu  dikurangi dengan :
  • Bunga  atas pinjaman pemerintah.
  • Bunga atas pinjaman konsumen.


3.  Pendekatan Pengeluaran.
Penghitungan pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan ini dilakukan dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran sector ekonomi, yaitu rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan masyarakat luar negeri suatu Negara pada periode tertent. Jadi, pengeluaran ini pada dasarnya merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh setiap penduduk atau lapisan masyarakat untuk menghasikan barang dan jasa baik barang konsumsi maupun barang modal.

Penggunaan cara ini akan dapat memberikan gambaran-gambaran tentang sampai di mana buruknya masalh ekonomi yang di hadapi, memberikan informasi dan data yang dibutuh kan dalam analisis makro ekonomi.

Jenis pengeluaran dari masing-masing pelaku ekonoi terdiri dari belanja untuk konsumsi (C), belanja untuk investasi (I), belanja untuk pemerintah (G), ekspor (X), dan impor (M). secara matematis, penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat ditulis sebagai berikut:

Y  = C  +  I  + G + (X-M)  atau                 Y  =  C + I + G + X – M
Keterangan:
Y =  Pendapatan Nasional
C=  Konsumsi = Pengeluaran RT Konsumen
I = Investasi = Pengeluaran RT. Produsen
G= Pengeluaran RT.Pemerintah
X = Ekspor
M=Impor



Jadi, dari sisi pandang pengeluaran pendapatan nasional adalah seluruh pengeluaran atau belanja lapisan masyarakat dala suatu Negara yang berlangsung dalam waktu tertentu, biasanya satu tahun.


C. Masalah dan Keterbatasan Perhitungan PDB
a. Perhitungan PDB Dan Analisa Kemakmuran
Perhitungan PDB akan memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran suatu Negara, dengan cara membaginya dengan jumlah penduduk. Angka tersebut dikenal sebagai angka PDB per kapita.
Biasanya makin tinggi angka PDB perkapita, kemakmuran rakyat di anggap makin tinggi. Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) juga menggunakan angka PDB perkapita untuk menyusun kategori tingkat kemakmuran suatu Negara.

b. Perhitungan PDB Dan Masalah Kesejahteraan Social
Perhitungan PDB maupun PDB perkapita juga dapat digunakan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan social suatu masyarakat. Umumnya ukuran tingkat kesejahteraan yang di pakai adalah tingkat pendidikan, kesehatan dan gizi, kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan yang lebih baik.
Masalah mendasar dalam perhitungan PDB adalah tidak di perhatikannya dimensi nonmaterial. Sebab PDB hanya menghitung output yang di anggap memenuhi kebutuhan fisik atau materi yang dapat di ukur dengan nilai uang.

c. PDB Per Kapita Dan Masalah Produktivitas
Sampai batas-batas tertentu, angka PDB perkapita dapat mencerminkan tingkat produktivitas suatu Negara. Untuk memperoleh perbandingan prokditivitas antar Negara, ada beberapa hal yang perlu di pertimbangkan:
  • Jumlah dan komposisi penduduk
  • Jumlah dan struktur kesempatan kerja
  • Faktor-faktor nonekonomi


d. Penghitungan PDB Dan Kegiatan-Kegiatan Ekonomi Tak Tercatat (Underground Economy)
Angka statistik PDB Indonesia yang di laporkan oleh badan pusat statistik hanya mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu statistik PDB belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu Negara. Di Negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih di sebabkan oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi masih di dominasi oleh kegiatan pertanian dan informal.

  • Contoh Soal
1.Pendapatan yang diperoleh masyarakat dalam suatu perekonomian sebagai berikut:
Upah dan gaji Rp 20.000.000,- = W
Sewa tanah Rp 10.000.000,- = R
Konsumsi Rp 17.000.000,- = C
Pengeluaran pemerintah Rp 15.000.000,- = G
Bunga Modal Rp 5.500.000,- = I
Keuntungan Rp 15.000.000,- = P
Investasi Rp 4.500.000,- = I
Ekspor Rp 14.000.000,- = X
Impor Rp 7.500.000,- = M

Tentukan pendapatan nasional pendekatan pendapatan dan pendekatan pengeluaran!
Jawaban:

1. Pendekatan Pendapatan
Y = W + I +R + P
Y = 20.000.000 + 5.500.000 + 10.000.000 + 15.000.000
= 50.500.000

2. Pendekatan Pengeluaran
Y = C + I + G + (X – M)
Y= 17.000.000+ 4.500.000 + 15.000.000 +(14.000.000 – 7.500.000)


=Rp 43.000.000 


Minggu, 02 Juni 2013

Struktur Pasar

Struktur pasar merupakan penggolongan pasar berdasarkan strukturnya. Dibagi kedalam beberapa bagian yaitu:

1. Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna merupakan jenis pasar dimana para produsennya tidak memiliki kemampuan dalam menentukan harga. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan barang-barang yang dijual di pasar persaingan sempurna homogen.  Homogen berarti sama antara satu dengan yang lain. Barang yang homogeny tersebut biasanya sulit dibedakan sehingga konsumen tidak bias membedakan barang dari produsen A dan juga barang dari produsen B. Jika produsen A berniat untuk menaikkan harga tentu ia akan dengan mudah ditinggalkan oleh konsumen karena barang yang diproduksi sama persis dengan produsen B. Oleh karena itu harga pada pasar persaintgan sempurna ini ditentukan oleh pasar. Pada pasar ini jumalh konsumen dan jumlah produsennya juga sama-sama banyak. Harga yang ada merupakan hasil mekanisme pasar dan juga hasil dari kegiatan penawaran dan permintaan yang terjadi di pasar. Penjual sama-sama tidak bias mempengaruhi harga dan berperan sebagai penerima harga atau disebut price taker.

Ciri-ciri pasar persaingan sempurna antara lain, sebagai berikut:
  •  Perusahaan adalah pengambil harga

Pengambil harga atau price taker berarti suatu perusahaan di dalam pasar tidak dapat menentukan atau merubah harga pasar.Apapun tindakan perusahaan di dalam pasar, ia tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang dipasar ditentukan oleh interaksi di antara  keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli.
  • Perusahaan mudah keluar dan mudah masuk pasar

Sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dapat diambil dengan  mudah dilakukan. Sebaliknya, apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut produsen dapat dengan mudah melakukan kegiatan di industri tersebut.
  •  Menghasilkan barang serupa

Barang yang di hasilkan produsen tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Barang yang dihasilkan serupa dan sangat sama. Tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara barang yang dihasilkan suatu perusahaan dengan yang dihasilkan perusahaan lainnya. Barang seperti itu dinamakan dengan istilah barang identical atau homogenous. Sebagai akibat dari sifat ini, tidak ada gunanya perusahaan melakukan persaingan yang berbentuk persaingan bukan harga atau nonprice competition yaitu persaingan dengan melakukan iklan dan promosi penjualan. Cara ini tidak efektif untuk menaikan penjualan karena pembeli mengetahui bahwa barang-barang yang dihasilkan berbagai produsen dalam industri tersebut tidak ada bedanya sama sekali.
  • Terdapat banyak perusahaan di pasar

Sifat inilah yang menyebabkan perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk merubah harga. Sifat ini meliputi dua aspek, yaitu jumlah perusahaan sangat banyak dan masing masing perusahaan adalah relatif kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan jumlah perusahaan di pasar. Sebagai akibatnya produksi setiap perusahaan adalah sangat sedikit apabila dibandingklan dengan total produksi seluruh perusahaan di pasar atau industri.
  • Pembeli mempunyai pengetahuan sempurna mengenai pasar

Dalam persaingan sempurna juga di asumsikan bahwa jumlah pembeli sangat banyak. Namun demikian di asumsikan pula bahwa masing-masing pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai keadaan pasar, yaitu mereka mengetahui tingkat harga yang berlaku dan perubahan keatas harga tersebut.

Seperti halnya jenis-jenis pasar yang lain, pasar persaingan sempurna memiliki kelemahan dan juga kelebihan. Kelemahan pasar persaingan sempurna yaitu:
  1. Barang yang diperjualbelikan bersifat homogen dan kurang variatif sehingga konsumen akan cepat merasa bosan.
  2. Tidak adanya inovasi dan pengembangan produk yang dilakukan perusahaan karena sebagian besar yang ikut dalam pasar persaingan sempurna adalah perusahaan kecil.

Selain kelemahan tersebut, pasar persaingan sempurna juga memiliki beberapa kelebihan, antara lain:
  1. Konsumen akan memperoleh kepuasan yang maksimal.
  2. Produsen akan memperoleh keuntungan yang maksimal karena dapat menjual sebanyak-banyaknya.
  3. Untuk memasarkan produknya, produsen tidak memerlukan iklan.


2. Pasar Monopoli
Pasar monopoli timbul akibat adanya praktek monopoli, yaitu pemusatan kekuatan ekonomi oleh satu pelaku usaha/penjual yang mengakibatkan dikuasainya produksi dan atau pemasaran atas barang dan jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum.
Berarti yang dimaksud dengan pasar monopoli adalah suatu bentuk hubungan antara permintaan dan penawaran yang dikuasai oleh satu pelaku ekonomi terhadap permintaan seluruh konsumen. Di dalam pasal 1 angka 1 UU Antimonopoli, monopoli didefinisikan suatu penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau atas penggunaan jasa tertentu oleh satu pelaku usaha atau satu kelompok usaha. Walaupun di pasar monopoli penjual tidak memiliki saingan, belum tentu ia dapat memperoleh keuntungan yang besar, hal ini mungkin saja terjadi bila biaya produksi berada di atas harga pasar.

Pasar monopoli dapat dicirikan oleh beberapa hal berikut ini, diantaranya:
  • Hanya terdapat satu penjual/produsen yang menguasai seluruh penawaran atas barang dan jasa tertentu
  • Barang dan jasa yang dijual tidak memiliki substitusi yang dekat, artinya tidak ada barang yang dapat menggantikan fungsi dari barang tersebut. Contoh: tidak ada barang pengganti yang bersamaan sifatnya dengan listrik, yang ada hanya barang pengganti yang berbeda sifatnya seperti gas.
  • Pasar/bidang usaha tidak dapat dimasuki oleh pihak lain
  • Penentuan harga dilakukan dan dikuasai oleh perusahaan, maka perusahaan monopoli disebut sebagai perusahaan penentu harga (price setter).

Kelebihan pasar monopoli adalah sebagai berikut:
  1. Keuntungan penjual cukup tinggi.
  2. Untuk produk yang menguasai hajat hidup orang biasanya diatur pemerintah.

Kelemahan pasar monopoli adalah sebagai berikut.
  1. Pembeli tidak ada pilihan lain untuk membeli barang.
  2. Keuntungan hanya terpusat pada satu perusahaan.
  3. Terjadi eksploitasi pembeli.


3. Pasar Monopolistis
Berdasarkan strukturnya, pasar monopolistik termasuk ke dalam pasar persaingan tidak sempurna. Pasar monopolistik merupakan suatu struktur pasar dimana terdapat banyak produsen yang menawarkan produk serupa, namun memiliki perbedaan dalam beberapa aspek. Pasar monopolistik biasanya dapat kita jumpai dalam pasar obat-obatan, pasar barang ritel, seperti sabun, shampoo, pasta gigi, kosmetik dan sebagainya.

Pasar Monopolistik memiliki ciri-ciri yang melekat, yaitu :
  • Terdapat banyak produsen atau penjual. Meskipun demikian, pasar ini tidak memiliki produsen atau penjual sebanyak pasar persaingan sempurna dan tidak ada satu pun produsen yang mempunyai skala produksi yang lebih besar dari produsen lainnya.
  • Adanya Diferensiasi Produk. Pasar ini menawarkan produk yang cenderung sama, namun memiliki perbedaan-perbedaan khusus dengan produk lainnya, misalnya dari cara pengemasan, pelayanan yang diberikan dan cara pembayaran.
  • Produsen Dapat mempengaruhi harga. Berbeda dengan Pasar Persaingan Sempurna, dimana harga terbentuk berdasarkan mekanisme pasar, maka pasar monopolistik dapat mempengaruhi harga meskipun tidak sebesar pasar oligopoli dan monopoli.
  • Produsen dapat keluar masuk pasar. Hal ini dipengaruhi oleh laba ekonomis, saat produsen hanya sedikit di pasar maka laba ekonomisnya cukup tinggi. Ketika produsen semakin banyak dan laba ekonomis semakin kecil, maka pasar menjadi tidak menarik dan produsen dapat meninggalkan pasar.
  • Promosi penjualan harus aktif. Pada pasar ini harga bukan merupakan pendongkrak jumlah konsumen, melainkan kemampuan perusahaan menciptakan citra baik dimata konsumen, sehingga dapat menimbulkan fanatisme terhadap produk. Karenanya, iklan dan promosi memiliki peran penting dalam merebut dan mempertahankan konsumen.

Pasar Monopolistik memiliki kelebihan sebagai berikut :
  1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk dapat memilih produk yang terbaik baginya.
  2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
  3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk yang dipilihnya.
  4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.

Selain memiliki kelebihan, Pasar Monopolistik juga memiliki kelemahan sebagai berikut :
  1. Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga, kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar.
  2. Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi.
  3. Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus dibayar oleh konsumen.


4. Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh. Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.

Ciri-ciri pasar oligopoli:
  • hanya ada beberapa perusahaan yang mendominasi pasar
  • barang yang dihasilkan atau dijual bersifat sama
  • sulit untuk masuk ke pasar karena investasinya tinggi
  • timbulnya pasar oligopoli ini disebabkan proses produksi menuntut dipergunakannya teknologi modern yang mendorong ke arah produksi secara besar-besaran sehingga persaingan melalui iklan sangat kuat.

Beberapa kelebihan dari pasar oligopoli yaitu;
  1. Terdapat sedikit pemjual karena memerlukan investasi besar
  2. Penjual sedikit sehingga dapat mengendalikan harga
  3. Bila terjadi persaingan harga, konsumen diuntungkan
Selain kelebihan pasar oligopoly juga mempunya beberapa kelemahan, yaitu sebagai berikut:
  1. Terdapat rintangan yang kuat untuk masuk kepasar oligopoli kerena investasi tinggi
  2. Akan terjadi perang harga
  3. Produsen bisa bekerjasama (Kartel)



Senin, 29 April 2013

Ongkos dan Penerimaan


Ongkos produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang gunanya untuk memproduksi output atau pengeluaran.

Macam-macam ongkos sebagai berikut :
  • Total Fixed Cost (Ongkos Total Tetap) adalah jumlah ongkos yang tetap yang tidak dipengaruhi oleh tingkat produksi. Contoh penyusutan, sewa, dsb.
  •  Total Variable Cost (Ongkos Variabel Total) adalah jumlah ongkos-ongkos yang dibayarkan yang besarnya berubah menurut tingkat yang dihasilkan. Contoh ongkos bahan mentah, tenaga kerja, dsb.
  •  Total Cost (Ongkos Total) adalah penjumlahan antara ongkos total tetap dengan ongkos total variabel. TC = TFC + TVC
  • Averege Fixed Cost (Ongkos Tetap Rata-Rata) adalah ongkos tetap yang dibebankan kepada setiap unit output.
  • Averege Fixed Cost (Ongkos Variable Rata-Rata) adalah ongkos variable yang dibedakan untuk setiap unit output.
  •  Average Total Cost (Ongkos Total Rata-Rata) adalah ongkos produkisi yang dibebankan untuk setiap unit output.
  • Marginal Cost (Ongkos Marginal) adalah tambahan atau berkurangnya ongkos total karena bertambahnya atau berkurangnya satu unit output.

Ongkos produksi dibedakan menjadi :
  • Ongkos Produksi Jangka Pendek.

Dalam ongkos produksi jangka pendek perusahaan sudah mempunyai peralatan-peralatan untuk produksi seperti mesin, gedung dan tanah. Masalah yang perlu diperhatikan adalah masalah kebijaksanaan bahan baku, tenaga kerja dan lain-lain yang merupakan ongkos variable. jadi dalam ongkos produksi jangka pendek ini terdapat ongkos tetap dan ongkos variable.
  • Ongkos Produksi Jangka Panjang

Dalam ongkos produksi jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor produksi, sehingga tidak ada ongkos tetap dalam jangka panjang. Semua pengeluaran merupakan ongkos variable.

Kurva Ongkos
Kurva ongkos adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah ongkos produksi dengan tingkat output yang dihasilkan.
Gambar 1. Kurva Ongkos Produksi Jangka Panjang
Gambar 2. KurvaBiaya Total
Gambar 3. Kurva Ongkos Variabel Rata-Rata
Gambar 4. Long Run Average Cost Curve
Gambar 5. Kemungkinan Kapasitas Produksi

Penerimaan
Penerimaan adalah segala penerimaan produsen dari hasil penjualan outputnya.

Macam-macam dari penerimaan yaitu diantaranya :
  • Total Penerimaan (Total Revenue): Total Revenue di singkat TR atau juga bisa disebut dengan total penerimaan yaitu penerimaan dari hasil penjualan.

  • Penerimaan Rata-rata (Avarage Total Revenue): Average Total Revenue yang disingkat AR atau yang lebih dikenal sebagai penerimaan rata-rata yaitu adalah rata-rata penerimaan dari per kesatuan produk yang dijual atau yang dihasilkan, dan yang diperoleh dengan jalan membagi hasil total penerimaan dengan jumlah satuan barang yang dijual.



  • Penerimaan Marginal (Marginal Revenue): Marginal Revenue yang disingkat MR atau juga bisa disebut dengan penerimaan marginal adalah suatu penambahan penerimaan atas TR sebagai akibat penambahan satu unti output.


Sifat-Sifat dari konsep revenue sebagai berikut :
  1. Total Revenue naik pada saat Eh dari Kurva Permintaan (AR) lebih dari 1 yang berarti penurunan harga 1%, berakibat kenaikan permintaan lebih dari 1%.
  2. Total Revenue maksimum pada Eh = 1
  3. Total Revenue turun pada saat Eh < 1 yang berarti penurunan harga 1% berakibat kenaikan permintaan kurang dari 1%.

Contoh Soal:
Sebuah pabrik papan luncur Merk "Kobra " mempunyai biaya tetap (FC) = 2.000.000; biaya untuk membuat sebuah papan luncur Rp 1000; apabila papan luncur tersebut dijual dengan harga Rp 2.000, maka:
Ditanya:             
a. Fungsi biaya total (C), fungsi penerimaan total ( TR) dan Variable Cost.
b. Pada saat kapan pabrik papan luncur mencapai BEP
c. Untung atau rugikah apabila memproduksi 8.000 unit
Jawab:
a. FC = Rp 2.000.000
    VC= Rp 1000.
    Fungsi biaya variabel VC = 1000  Q ..................................................(1)
    Fungsi biaya total C = FC + VC     -----> C = 2.000.000 + 1000 Q ...(2)
    Fungsi penerimaan total  TR = P.Q -----> TR = 2.000 Q .................(3)

b. Break Even Point terjadi pada saat TR = TC
    2.000 Q  = Rp 2.000.000 + 1000 Q
    2.000 Q - 1000 Q = 2.000.000
     1000 Q = 2.000.000
     Q = 2.000 unit
    Pabrik papan luncur akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
    Pada biaya total  C = 2.000.000 + 1000 ( 2.000)
                              C = 4.000.000

c. Pada saat memproduksi Q = 8000 unit
    TR = P.Q
          = 2.000  X  8.000
          = 16.000.000

    C  = 2.000.000 + 1000 (Q)
         = 2.000.000 + 1000 ( 8.000)
         = 2.000.000 + 8.000.000
         = 10.000.000

    Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.
    laba = TR - TC
           = 16.000.000- 10.000.000
           = 6.000.000

Bila hanya memproduksi 3000 unit maka akan mengalami kerugian sebesar
   Rugi = TR - TC9
            = 2.000 (1500)  - 2.000.000 + 1000 ( 1500)
            = 3.000.000 – 3.500.000

            = -500.000 
Keuntungan Maksimum

  • Permintaan dan Hasil Jualan

Didalam menganalisis usaha sesuatu perusahaan untuk memaksimumkan keuntungan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
a)      Biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan
b)      Hasil penjualan dari barang yang dihasilkan perusahaan itu.
  • Permintaan Pasar dan Perusahaan
  • Hasil Penjualan Marginal, Rata-rata dan Total, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu diantaranya adalah :
a)      Hasil pendekatan total
b)      Hasil pendekatan marginal
c)       Hasil pendekatan rata-rata

Pendekatan Total
Gambar 1. Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Total

Gambar 2. Kurva Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Total

Pendekatan Marginal
Gambar 3. Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Marginal

Gambar 4. Kurva Mencari Keuntungan Maksimum dengan Pendekatan Marginal

Pendekatan Rata-Rata
Hasil Penjualan Rata-rata,untuk suatu perusahaan dalam pasar persaingan sempurna hasil penjualan rata-rata (AR) adalah harga barang yang diproduksi perusahaan adalah Rp 3000 maka d0=AR0= MRQ adalah kurva permintaan yang dihadapi perusahaan. Dengan demikian kurva ini adalah kurva hasil penjualan rata-rata pada harga barang sebanyak Rp 3000 (dan dinyatakan sebagai AR^. Kalau harga barang yang dijual perusahaan adalah Rp 6000, kurva d} = AR} = MRj adalah kurva permintaan dan juga kurva hasil penjualan rata-rata pada harga Rp 6000.

Dalam mencari keuntungan maksimum dengan pendekatan rata-rata, yaitu menggabungkan antara pasar persaingan sempurna dengan persaingan pasar tidak sempurna.





Selasa, 16 April 2013

Perilaku Produsen


Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang. Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen.

Kegiatan produksi tentunya memerlukan unsur-unsur yang dapat digunakan dalam proses produksi yang disebut faktor produksi. Faktor produksi yang bisa digunakan dalam proses produksi terdiri atas sumberdaya alam, tenaga kerja mansuia, modal dan kewirausahaan.

a. Sumberdaya Alam
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang disediakan oleh alam yang dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sumber daya alam di sini meliputi segala sesuatu yang ada di dalam bumi, seperti:
- Tanah, tumbuhan, hewan.
- Udara, sinar matahari, hujan.
- Bahan tambang, dan lain sebagainya.

Faktor produksi sumber daya alam merupakan faktor produksi asli karena telah tersedia di alam langsung.

b.Sumber daya Manusia (Tenaga Kerja Manusia)
 Tenaga kerja manusia adalah segala kegiatan manusia baik jasmani maupun rohani yang dicurahkan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa maupun faedah suatu barang. Tenaga kerja manusia dapat diklasifikasikan menurut tingkatannya (kualitasnya) yang terbagi atas:
  •  Tenaga kerja terdidik (skilled labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan baik formal maupun non formal. Contoh: guru, dokter, pengacara, akuntan, psikologi, peneliti.
  • Tenaga kerja terlatih (trained labour), adalah tenaga kerja yang memperoleh keahlian berdasarkan latihan dan pengalaman. Contoh: montir, tukang kayu, tukang ukir, sopir, teknisi.
  • Tenaga kerja tak terdidik dan tak terlatih (unskilled and untrained labour), adalah tenaga kerja yang mengandalkan kekuatan jasmani daripada rohani. Contoh: tenaga kuli pikul, tukang sapu, pemulung, buruh tani.


Fungsi Produksi

Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Q = f (X 1, X 2, X 3 ,…, X n)
di mana:
Q = jumlah output
X 1, X 2, X 3 ,…, X n = jumlah input faktor (seperti modal, tenaga kerja, tanah atau bahan baku).
Fungsi ini masih bersifat umum, karena hanya mampu menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor-faktor produksi tersebut.
Untuk dapat memberikan penjelasan kuantitatif, fungsi produksi tersebut harus dinyatakan dalam bentuknya yang spesifik, seperti misalnya:


a) Y = a + bX (fungsi linier)
b) Y = a + bX – cX2 (fungsi kuadratis)
c) Y = aX1 bX2 cX3 d (fungsi Cobb-Douglas), dan lain-lain.
Dalam teori ekonomi, sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut : “The Law of Diminishing Returns”  (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.


Produksi Optimal

Produksi optimal dikaitkan dengan penggunaan factor produksi untuk memproduksi output tertentu, posisi optimal ini dicapai dimana tidak dimungkinkan untuk meningkatkan output tanpa mengurangi produksioutput yang lain.

a. Tingkat Produksi Optimal
Tingkat produksi optimal atau Economic Production Quantitiy (EPQ) adalah sejumlah produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya persediaan (Yamit, 2002). Metode EPQ dapatdicapai apabila besarnya biaya persiapan (set up cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan jumlahnya minimum. Artinya, tingkat produksi optimal akan memberikan total biayapersediaan atau total inventori cost (TIC) minimum.

Metode EPQ mempertimbangkan tingkat persediaan barang jadi dan permintaan produk jadi. Metode ini juga mempertimbangkan jumlah persiapan produksi yang berpengaruh terhadap biaya persiapan.Metode EPQ menggunakan asumsi sbb :
  • barang yang diproduksi mempunyai tingkat produksi yang lebih besar dari tingkat permintaan.
  • selama produksi dilakukan, tingkat pemenuhan persediaan adalah sama dengan tingkat produksi dikurangi tingkat permintaan.
  • Selama berproduksi, besarnya tingkat persediaan kurang dari Q (EPQ) karena penggunaan selama pemenuhan.

b. Penentuan Volume Produksi yang Optimal
Menurut Riyanto (2001), penentuan jumlah produk optimal hanya memperhatikan biaya variable saja. Biaya variable dalam persediaan pada prinsipnya dapat digolongkan sbb: 
  • Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi jumlah persiapan proses produksi yang disebut biaya persiapan produksi (set-up cost).
  • Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya persediaan rata-rata yang disebut biaya penyimpanan (holding cost).

Biaya penyimpanan terdiri atas biaya yang-biaya yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila rata-rata persediaan semakin tinggi.Biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan diantaranya :
  1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pemanas atau pendingin)
  2. Biaya modal (opportunity cost of capital)
  3. Biaya keusangan
  4. Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan
  5.  Biaya asuransi persediaan
  6. Biaya pajak persediaan
  7.  Biaya pencurian, pengrusakan atau perampokan
  8. Biaya penanganan persediaan, dan sebagainya.

Least Cost Combination
Least Cost Combination adalah menentukan kombinasi input mana yang memerlukan biaya terendah apabila jumlah produksi yang ingin dihasilkan telah ditentukan. ISoquant atau Isoproduct Curve adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara berbagai kemungkinan kombinasi 2 input variable dengan tingkat putput tertentu. Dalam hal ini pengusaha masih dapat menghemat biaya untuk menghasilkan produk tertentu selama nilai input yang digantikan atau disubstitusi masih lebih besar dari nilai input yang menggantikan atau yang mensubstitusi. Jadi, selama DX2.P2 > DX1.P1 maka penggantian DX2 oleh DX1 masih menguntungkan.

Penggunaan kombinasi factor produksi dengan menggunakan biaya yang paling murah. Syarat LCC: MRTS (marginal rate of technical substitution), bila menambah salah satu input maka mengurangi penggunaan input.

Dalam rangka untuk menentukan kombinasi terbaik dari modal dan tenaga kerja untuk menghasilkan output itu, kita harus mengetahui jumlah dana tersedia untuk produsen untuk dibelanjakan pada masukan dan juga harga masukan. Anggaplah bahwa produsen telah dipelepasannya. 10.000 untuk dua input, dan bahwa harga dari dua masukan sebagai. 1000 per unit modal dan. 200 per unit tenaga kerja. Perusahaan akan memiliki tiga kemungkinan alternatif sebelumnya.
  1. Untuk menghabiskan uang hanya pada modal dan aman 10 unit itu.
  2. Untuk menghabiskan jumlah tersebut hanya pada tenaga kerja dan mengamankan 50 unit tenaga kerja.
  3. Untuk menghabiskan jumlah tersebut sebagian pada modal dan sebagian pada tenaga kerja.

Garis harga faktor juga dikenal sebagai garis isocost karena mewakili berbagai kombinasi input yang dapat dibeli untuk jumlah uang yang diberikan dialokasikan. Kemiringan garis harga faktor menunjukkan rasio harga modal dan tenaga kerja yaitu 1:5.
Dengan menggabungkan isoquant dan garis harga faktor, seseorang dapat mengetahui kombinasi optimal faktor-faktor yang akan memaksimalkan output.




Kamis, 28 Maret 2013

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

A. Pendekatan Perilaku Konsumen
Pendekatan untuk mempelajari tingkah laku konsumen ada 2 :
  • Pendekatan Marginal Utility ( Cardinal ), beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur dengan satuan, misalnya: Uang.

Pendekatan Marginal Utility. Perilaku konsumen bisa diterangkan dengan menggunakan pendekatan marginal utility sebagai berikut:
  1. Utility bisa diukur dengan uang, dan
  2. Hukum Gossen (law of diminishing marginal utility) berlaku, yaitu bahwa semakin banyak sesuatu barang dikonsumsikan, maka tam­bahan kepuasan (marginal utility) yang diperoleh dari setiap satuan tambahan yang dikonsumsikan akan menurun, dan
  3. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.

Perhatikan perbedaan antara kepuasan total (total utility) dan kepuasan marjinal (marginal utility).

1. Dari konsumsi suatu barang X , Semakin banyak barang X yang dikonsumsikan, semakin kecil marginal utility yang diperoleh dari barang X yang terakhir dikonsumsikan [anggapan (b) di atas].

2. Bila harga barang X adalah OPx, maka pada tingkat konsumsi yang lebihrendah dari 0X 3, tingkat kepuasan total (total utility) konsumen belum mencapai maksimum. Misalnya pada tingkat konsumsi OX1, maka setiap tambahan pembelian 1 (satu) unit X akan memberikan tambahan kepuasan (yang dinilai dengan uang) sebesar X1 B sedangkan pengorbanan (berupa pembayaran harga) untuk 1 unit tersebut adalah hanya X1 A ( = OPx).
Jadi ada tambahan kepuasan netto sebesar AB bila konsumen membeli lebih banyak X. Oleh sebab itu masih menguntungkan baginya apabila ia menambah pembelian barang X.

3. Sebaliknya, pada tingkat konsumsi lebih besar dari OX 3 maka kepuasan total konsumen juga tidak maksimum. Misalnya pada imgkat konsumsi OX2, maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari pembelian 1 (satu) unit terakhir dari barang X hanya sebesar X2E, sedangkan pengorbanan konsumen adalah sebesar X2D (= OPx); jadi

4. Akan menambah kepuasan total konsumen bila ia mengurangi tingkat konsumsi (pembeliannya). Konsumen akan mencapai kepuasan total yangmaksimum pada tingkat konsumsi (pembelian) di mana pengorbanan untuk pembelian unit terakhir dari barang tersebut (yang tidak lain adalah harga unit terakhir tersebut) adalah sama dengan kepuasan tambahan yang didapatkan dari unit terakhir tersebut.

  • Pendekatan Idifference Curve ( Ordinal ), yang beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah.

Anggapan dalam pendekatan ordinal sebagai berikut:
  1. Konsumen mempunyai pola preferensi akan barang-barang tertentu.
  2. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu.
  3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

Ciri-ciri Indifference Curve sebagai berikut:
  1. Turun dari kiri atas ke kanan bawah.
  2. Cembung ke arah origin.
  3. Indifference Curve yang satu dengan lainnya tidak pernah saling memotong.
  4. Indifference Curve yang terletak di sebelah kanan atas menunjukan tingkat keupasan yang lebih tinggi dan sebaliknya.



Garis ini disebut garis budget atau budget line. Tingkat kepuasan yang maksimum dicapai bila konsumen membelanjakan M untuk membeli sebanyak OY 1 barang Y dan OX 1 barang X, yaitu pada posisi persinggungan antara budget line dengan indifference curve.

Posisi ini menunjukkan posisi kepuasan yang maksimum atau posisi equilibrium konsumen dengan constraint (M) karena I 1 adalah Indifference curve yang tertinggi yang bisa dicapai oleh budget line tersebut; posisi selain A hanya bisa mencapai indifference curve yang lebih rendah dari I 1.

Bila harga X turun dari Px menjadi P’x dan harga Y tetap. Maka budget line akan berayun ke kanan menjadi garisM/Py <-> M/PxPosisi equilibrium yang baru adalah pada C.

Jadi dengan adanya penurunan harga barang X, maka jumlah barang X yniig diminta naik dari OX 1 menjadi OX 3. Perilaku konsumen




B. Konsep Elastisitas

1. Harga
Elastisitas harga permintaan adalah derajat kepekaan/ respon jumlah permintaan akibat perubahan harga barang tersebut atau dengan kata lain merupakan perbadingan daripada persentasi perubahan jumlah barang yang diminta dengan prosentase perubahan pada harga di pasar, sesuai dengan hukum permintaan, dimana jika harga naik, maka kuantitas barang turun Dan sebaliknya.

Sedangkan tanda elastisitas selalu negatif, karena sifat hubungan yang berlawanan tadi, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar indeksnya/koefisiennya dapat kurang dair, dama dengan lebih besar dari satu Dan merupakan angka mutlak (absolute), sehingga permintaannya dapat dikatakan :
  1. Tidak elastisitas (in elastic)
  2. Unitari (unity) dan
  3. Elastis (elastic)

Dengan bentuk rumus umum sebagai berikut :
Eh = adalah elastisitas harga permintaan
Q = adalah Jumlah barang yang diminta
P =  adalah harga barang tersebut
Δ = adalah delta atau tanda perubahan.

2. Silang
Permintaan konsumen terhadap suatu barang tidak hanya dilihat dari segi harga yang ditawarkan tetapi ada faktor lain juga yang turut mempengaruhi permintaan konsumen, yaitu faktor preferensi konsumen, harga barang subtitusi dan komplementer serta income dari konsumen itu sendiri.

Sehingga pengertian dari elastisitas silang atau the cross price elasticity of demand  adalah  ukuran terhadap reaksi atau respon permintaan terhadap harga yang berhubungan dengan barang tersebut.

Apabila terjadi perubahan harga akan mengakibatkan perubahan permintaan terhadap produk lain. Jika barang tersebut adalah barang komplementer (pelengkap) maka tanda elastisitas silangnya adalah negatif, contohnya adalah kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena.

Apabila barang tersebut adalah barang subtitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, contohnya adalah kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi, kambing, dan juga sebaliknya.
   
Bentuk umum dari Elastisitas silang adalah :
      ΔQ   Py
Es = ——- x ——- > 0  subtitusi
    ΔPx    Qx
     ΔQy   Px
Es = ——- x ——- < 0 Komplementer
     ΔPy   Qy
Dan apabila elastisitas silang tersebut hasilnya adalah 0 (nol) hal ini menandakan bahwa tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain yang dibandingkan.


3. Pendapatan
Yang dimaksud dengan elastisitas pendapatan adalah besar kecilnya pendapatan yang diterima sangat mempengaruhi permintaan terhadap barang dari konsumen karena hal ini menyangkut daya beli yang dimiliki oleh konsumen.
  
  Besarnya pengaruh perubahan pendapatan konsumen diukur dengan elastisitas pendapatan, dimana :
      ΔQ    ΔY                          
Em = ——- : ——–
      Q     Y
atau
      ΔQ    Y
Em = ——– x ——–
      ΔY    Q            
Dan dapat disimpulkan bahwa :
  1.  Jika Em= 1 atau disebut dengan kondisi Unity, maka 1 % kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1 % jumlah permintaan akan barang.
  2. Jika Em>1 atau disebut dengan kondisi Elastis, maka orang akan membelanjakan bahagian yang lebih besar dari pendapatan yang mereka terima untuk melakukan permintaan terhadap barang.
  3. Jika pendapatan naik dan hasil perhitungan Em < 1 atau disebut dengan kondisi in Elastis, maka orang akan membelanjakan bahagian pendapatan yang mereka terima untuk melakukan permintaan terhadap barang.

Jumat, 22 Maret 2013

Penentuan Harga Permintaan dan Penawaran


Teori penawaran dan permintaan (bahasa Inggris: supply and demand) dalam ilmu ekonomi, adalah penggambarkan atas hubungan-hubungan di pasar, antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar. Model ini sangat penting untuk melakukan analisa ekonomi mikro terhadap perilaku para pembeli dan penjual, serta interaksi imereka di pasar. Ia juga digunakan sebagai titik tolak bagi berbagabi model dan teori ekonomi lainnya. Model ini memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.


A. Permintaan
a. Pengertian
Permintaan dalam isitilah ekonomi disebut demand adalah jumlah barang dan jasa yang berada di pasar dengan harga tertentu dan pada waktu tertentu yang akan dibeli oleh konsumen.

Kebutuhan perminataan masyarakat/individu terhadap suatu jenis barang tergantung kepada factor-faktor sebagai berikut:
  1.  Harga barang itu sendiri
  2. Harga barang lain
  3. Pendapatan konsumen
  4. Cita masyarakat/selera
  5. Jumlah penduduk
  6.  Musim/iklim
  7. Prediksi masa yang akan dating

b. Hukum Permintaan
Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta meningkat. Dengan demikian hukum permintaan berbunyi:
“Semakin turun tingkat harga, maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga semakin sedikit jumlah barang yang bersedia diminta.”
Pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya hukum permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau faktor-faktor selain harga tidak berubah (dianggap tetap).

c. Kurva Permintaan
Kurva Permintaan dapat didefinisikan sebagai : “Suatu kurva yang menggambarkan sifat hubungan antara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang diminta para pembeli.” Kurva permintaan berbagai jenis barang pada umumnya menurun dari kiri ke kanan bawah. Kurva yang demikian disebabkan oleh sifat hubungan antara harga dan jumlah yang diminta yang mempunyai sifat hubungan terbalik.


Fungsi dalam ekonomi merupakan model persamaan yang menyatakan keadaan suatu keadaan. Jadi fungsi permintaan merupakan model ekonomi yang menjelaskan keadaan permintaan akan suatu barang atau jasa  yang berbentuk persamaan matematis. Sedangkan kurva permintaan merupakan model ekonomi yang menjelaskan keadaan permintaan akan suatu barang dan jasa dalam bentuk grafik. Secara matematis, persamaan untuk fungsi permintaan berdasarkan hukum permintaan dapat ditulis sebagai berikut :


Kurva permintaan bergerak dari kiri atas ke kanan bawah hal ini terjadi karena berlakunya hukum permintaan. Oleh karenanya setiap harga naik maka permintaan pun akan menurun sehingga menyebabkan pergerakan kurva permintaan menurun dari kiri atas menuju kanan bawah, tentunya hal ini akan terjadi dengan asumsi semua faktor lain berada dalam keadaan konstan atau tidak berubah. Jika ada faktor yang berubah, maka akan terjadi pergeseran kurva permintaan.

d. Pergeseran Kurva Permintaan
Setiap perubahan yang mengakibatkan pertambahan jumlah permintaan pada suatu tingkat harga tertentu, akan menggeser kurva permintaan ke kanan. Sebaliknya, setiap perubahan yang menurunkan jumlah permintaan akan menggeser kurva permintaan ke kiri. Pergeseran kurva permintaan secara ilustratif dapat digambarkan sebagai berikut :


e. Contoh Soal
Jika diketahui fungsi permintaan 1000-40Q dan fungsi penawaran -600 +40Q. Tentukan keseimbangan pasarnya?
Pd = 1000 – 40Q, Ps = -600 + 40Q
Pd = Ps
1000 – 40Q = -600 + 40Q
1000 + 600 = 40Q + 40Q
1600 = 80Q
Q = 1600 : 80
Q = 20 Pd = 1000 – 40Q
= 1000 – 40 (20)
= 1000-800
= 200
Jadi, keseimbangan pasar pada harga Rp.200,- jumlah barang yang diperoleh yaitu 10 unit.


B. Penawaran
a. Pengertian
Penawaran adalah setiap produsen yang menghasilkan barang dan jasa tertentu dengan maksud untuk memperoleh keuntungan dengan cara menjual hasil produk tersebut.
Keinginan para penjual dalam menawarkan barang ada berbagai tingkat harga ditentukan oleh beberapa faktor-faktor penting, yaitu:
  1. Kemajuan teknologi
  2. Biaya Produksi
  3.  Persediaan sarana produksi
  4. Peningkatan jumlah produsen
  5. Peristiwa alam
  6. Ekspektasi atau harapan produsen
  7. Harga barang dan jasa lain

b. Hukum Penawaran
Hukum penawaran berbunyi: “Apabila harga suatu barang atau jasa naik, maka jumlah yang ditawarkan produsen akan bertambah dan sebaliknya. Apabila harga suatu barang atau jasa turun, maka jumlah yang ditawarkan produsen juga akan berkurang”. Hukum penawaran tersebut Nampak bahwa antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan produsen memiliki hubungan positif atau searah.

c. Kurva Penawaran
Kurva penawaran (supply curve) adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara harga dengan jumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada masing-masing tingkat harga. Sudah menjadi sifat produsen/penjual bahwa bila harga naik, mereka akan menambah jumlah barang yang dijual dan sebaliknya. Sehingga bentuk kurva penawaran melereng dari kiri bawah ke kanan atas atau dari kanan atas ke kiri bawah.


d. Pergeseran Kurva Penawaran
Bentuk kurva penawaran tersebut akan dapat bergeser ke kanan jika jumlah barang yang diproduksi melimpah karena kemajuan teknologi/karena laba yang diinginkan. Sebaliknya kurva penawaran bergeser ke kiri jika jumlah produksinya menurun.

Apabila digambarkan dalam bentuk grafik akan tampak sebagai berikut:


e. Contoh Soal
Pada saat harga durian Rp. 3.000 perbuah toko A hanya mampu menjual Durian sebanyak 100 buah, dan pada saat harga durian Rp. 4.000 perbuah toko A mampu menjual Durian lebih banyak menjadi 200 buah. Dari kasus tersebut buatlah fungsi penawarannya ?
Jawab :
Dari soal diatas diperoleh data sebagai berikut :
P1 = 3.000     Q1 = 100 buah
P2 = 4.000     Q2 = 200 buah
Langkah selanjutnya, kita memasukan data-data diatas kedalam rumus persamaan linear a:
 P - P1        Q - Q1
--------- =  ---------
P2 - P1      Q2 - Q1

    P  - 3.000         Q - 100
--------------  = -------------
4.000 - 3.000      200 - 100

     P - 3.000           Q - 100
--------------   =  -------------
        1.000                 100

(P - 3.000)(100) = (Q - 100) (1.000)
100P - 300.000  = 1.000Q - 100.000
1.000Q = -300.000 + 100.000 + 100P
1.000Q = -200.000 + 100P
Q = 1/1000 (-200.000 + 100P )
Q = -200 + 0.1P
============
Jadi, dari kasus diatas diperoleh Fungsi penawaran : Qs = -200 + 0,1Pd


C. Penentuan Harga Keseimbangan
Harga keseimbangan atau harga ekuilibrium dalam ekonomi adalah merupakan harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran. Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli (konsumen) dan penjual (produsen) di mana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga.

Masalah harga berhubungan dengan barang ekonomis, sebab barang ekonomis adanya langkah dan berguna dan untuk memperolehnya diperlukan pengorbanan uang dengan bantuan harga. Harga adalah perwujudan nilai tukar atas suatu barang/jasa yang dinyatakan uang. Oleh karena itu, harga merupakan nilai tukar obyektif atas barang/jasa dan nilai tukar obyektif itu sendiri adalah harga pasar atau harga keseimbangan. Harga pasar tidak terbentuk secara otomatis akan tetapi melalui suatu proses mekanisme pasar yakni tarik menarik antara kekuatan pembeli dengan permintaannya dan kekuatan penjual dengan penawarannya.

Berdasarkan pengertian tersebut maka harga keseimbangan dapat diartikan harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran. Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli (konsumen) dan penjual (produsen) di mana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga.



Referensi: